Hasil Lab dikatakan oleh dokter normal, tapi kok badan sakit yah??

Kondisi seperti gambar di atas banyak juga dialami oleh kita, teman atau saudara kita. Tentu kita bertanya tanya kenapa bisa seperti demikian, hasil lab bagus, setelah USG juga tidak ada kelainan dengan organ tubuh. Tapi kenapa masih saja sakit?

Hal ini bisa disebabkan oleh disebabKan oleh beberapa faktor,

Faktor pertama : stress tinggi yang mengakibatkan terganggungnya system saraf otonom yang berefek ke adrenalin, insulin gula

Gangguan sistem saraf otonom atau sering disebut “penyaKit inKonsistensi Tubuh” . Dalam kondisi ini, pemeriKsaan menunjukkan hasil yang normal, tetapi pasien merasa “tidaK enaK badan”.

 Pada awalnya, peristiwa ini biasa terjadi pada wanita yang sudah mengalami menopause,  tetapi seKarang sudah meluas Ke berbagai KelompoK usia dan tidaK hanya dialami oleh wanita.

PenyaKit ini disebabKan oleh saraf simpatiK yang beKerja secara berlebihan. KetiKa Anda beKerja Keras, saraf simpatiK anda aKan beKerja lebih dominan. JiKa Anda mengabaiKan hal itu. Keseimbangan sistem saraf otonom Anda aKan terganggu Karena saraf simpatiK anda terlalu dominan. Sebaiknya anda melaKuKan Kegiatan sehari hari tanpa membebani Kerja saraf simpatiK secara berlebihan.

Masalah juga aKan timbul apabila Anda menjalanKan gaya hidup yang terlalu santai. Hal ini akan menjadiKan saraf parasimpatiK anda terlalu dominan. Kerja saraf parasimpatiK aKan menjadiKan pembuluh darah melebar sehingga volume darah meningKat. AKibatnya. tekanan darah menurun, denyut jantung melemah, lalu badan menjadi lemas. Saraf parasimpatiK yang terlalu dominan dapat mengaKibatKan penyaKit sindrom usus rengsa. PenyaKit ini mengaKibatKan sembelit, diare, dan gangguan fungsi usus yang berKepanjangan.

Jadi, penting seKali menjaga Keseimbangan Kerja saraf simpatiK dan parasimpatiK. Dengan melaKuKan Kegiatan-Kegiatan yang mengurangi stres. penyaKit-penyaKit yang Anda derita aKan berangsur menghilang.

Cara Kerja Sistem Saraf Otonom bagi Tubuh

Sistem saraf otonom adalah serabut saraf yang mengatur metabolisme, sistem pernapasan, sistem peredaran darah, sistem pencernaan, sistem hormon, sistem reproduksi, mengatur suhu tubuh, dan
mengeluarkan keringat.

Sistem saraf otonom terdiri atas dua jenis saraf yang berlawanan fungsi, yaitu

  • Saraf simpatik

  • Parasimpatik.

Saraf simpatik bekerja lebih dominan ketika kita terjaga atau berada dalam kondisi yang emosional, sedangkan saraf parasimpatik bekerja lebih dominan ketika kita tertidur atau bersantai.

 Kedua saraf ini ibarat pedal gas dan pedal rem pada mobil. Sistem saraf yang mengatur gerak tubuh adalah saraf motorik. Saraf ini bekerja sesuai dengan keinginan kita, sedangkan sistem saraf otonom bekerja secara otomatis. Mekanisme otomatis Inilah yang membuat otot-otot jantung mampu berdenyut secara terus-menerus.

 Gaya hidup masyarakat modern yang cenderung menumpuk stres akan melemahkan sistem saraf otonom. Keseimbangan sistem saraf otonom menjadi terganggu karena sarafsimpatik bekerja secara berlebihan. Hal ini berdampak pada melemahnya kondisi tubuh secara umum

Dominasi saraf simpatik

dapat mengakibatkan tekanan darah meningkat secara tiba-tiba. Anda boleh saja mengganti istilah “dominasi” tersebut dengan “ketegangan” agar Anda lebih mudah memahami bahwa ketegangan tersebut terjadi akibat stres yang terlalu berat.

Setelah saraf simpatik mengalami tekanan akibat stres yang berlebihan, kelenjar anak ginjal mengeluarkan zat bernama adrenalin yang akan meningkatkan denyut jantung hingga dada terasa berdebar-debar. Hal ini terjadi tatkala kita merasa bersemangat atau terburu-buru. Atau bermain roller coster.

Adrenalin juga dapat menaikkan tekanan dan kadar gula darah, serta menurunkan suhu tubuh bagian dalam sehingga mengakibatkan terjadinya kekurangan oksigen.

Sistem penghasil energi pada tubuh manusia terdiri atas dua jenis, yaitu sistem glikolisis yang mengakibatkan berkurangnya oksigen dan turunnya suhu tubuh, serta sistem mitokondria yang mengakibatkan bertambahnya oksigen dan naiknya suhu tubuh.

Ketika berlari, energi yang digunakan bersumber dari sistem glikolisis, sedangkan ketika berjalan, energi yang digunakan bersumberdari sistem mitokondria.

Jika saraf simpatik sering mendapat tekanan, energi dari sistem glikolisis menjadi dominan sehingga mengakibatkan ketegangan otot. Apabila keadaan Ini berlanjut,fungsi sistem mitokondria akan melemah, dan hal ini berdampak buruk bagi tubuh. Melemahnya fungsi sistem mitokondria mengakibatkan terjadinya inkonsistensi tubuh, kelelahan, dan gejala-gejala lain karena komposisi protein yang dibuat didalam sel menjadi kurang baik.

Gangguan sistem saraf otonom dan inkonsistensi tubuh sering terjadi pada wanita yang telah mengalami menopause, tetapi sebenarnya dapat dialami oleh siapa saja, baik pria maupun wanita, tanpa memandang usia. Waspadai sakit kepala, kelelahan, nyeri punggung, nyeri pinggang, rasa mual, sakit tenggorokan,dan gejala-gejala lain yang tidak spesifik

Saraf simpatik yang tertekan akibat stres akan meningkatkan produksi hormon peningkat kadar gula darah, seperti glukagon dan adrenalin. Jika kadar kedua hormon ini meningkat, resistensi insulin’ menjadi semakin kuat sehingga kadar gula darah akan meningkat.

Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas. Hormon ini berfungsi menurunkan kadar gula darah dengan menyerap glukosa dari dalam darah, jika Anda pernah mendengar ungkapan “gula darahnya tinggi”, ungkapan tersebut sebenarnya merujuk pada tingginya kadar glukosa di dalam darah seseorang.

Glukosa (disebut juga sebagai gula anggur) banyak terdapat dalam makanan pokok, seperti roti. nasi, dan tentu saja terdapat pada gula pasir. Glukosa merupakan sumber energi bagi tubuh sehingga makanan yang mengandung banyak glukosa sering dijadikan sebagai makanan pokok.

Sekitar 90 % kasus diabetes di jepang disebabkan oleh dua hal, yaitu :

  • kerja insulin yang buruk

  • gula darah yang tidak diserap secara efektif oleh sel-sel tubuh sehingga tertinggal di dalam darah.

Gula darah berlebih akan berubah menjadi racun. Gula darah dapat bereaksi dengan bermacam-macam protein dalam proses yang disebut sebagai sakarifikasi. Proses ini menghasilkan zat-zat yang merugikan kesehatan.

Salah satu jenis reaksi kimia yang berlangsung di dalam tubuh adalah reaksi oksidasi. Reaksi Ini berlangsung secara bolak-balik dan bertujuan membuang bahan-bahan yang tidak diperlukan tubuh.

Reaksi ini akan terhenti ketika gula dan protein bereaksi melalui proses sakarifikasi. Hasil reaksi sakarifikasi menjadi racun yang akan terus bertumpukdi dalam tubuh karena tidakdapat dikeluarkan.

Dalam istilah kedokteran, bahan-bahan tersebut disebut sebagai AGEs’. Bahan-bahan ini bertumpuk di pembuluh darah hingga mengakibatkan bermacam-macam penyakit dan penuaan sel.

Penyumbatan pembuluh darah, katarak, osteoporosis, dan penyakit Alzheimer akan terjadi manakala bahan-bahan tersebut menumpukdi bagian-bagian tubuh yang terkait dengan penyakit-penyakit ini.

Oleh karena itu, kita perlu menghindari beban yang berlebihan pada saraf simpatik dan mengurangi konsumsi gula untuk mencegahnya.

source : Yutaka Okamoto, M.D

Faktor kedua : System pemeriksaan tubuh yang belum maksimal 

Walaupun hasil lab menyatakan anda sehat ataupun dibatas bawah atau atas, kita perlu membatasi kurang lebih 20% dari batas yang ditentukan. Seperti gambar dibawah ini :

Kita harus memperhatikan ketika sudah berada di 20% batas maksimal / minimal, maka sudah waktunya kita melakukan pemeriksaan. Tidak selamanya ketika hasil lab ataupun USG yang menyatakan organnya tidak mengalami peradangan, bengkak, pengecilan maka organ bersangkutan tidak memiliki masalah.

Bagaimana melakukan pemeriksaan pada tubuh selain menggunakan USG/Lab?

Tentu kita sadar, area tubuh tertentu ketika ditekan ada kalanya bisa terasa sakit, ngilu, geli, nyeri, tegang, lembek, dingin ataupun panas. Tapi ada juga yang tidak terasa apa apa, cuma terasa sentuhan. Maka dari sini kita bisa melihat bahwa sebenarnya jika tidak ada masalah dengan area tersebut, maka seharusnya tidak akan terasa sakit, ngilu ataupun sensasi lainnya.

Karena itulah ada masanya ketika melakukan diagnosa sangat disarankan melakukan pemeriksaan perabaan, menekan area tubuh seperti abdomen (perut), pinggang, leher. Jika area tertentu mengalami sakit, maka organ tertentu yang ada dibaliknya sudah memiliki masalah walaupun hasil USG/Lab tidak menunjukkan masalah.

Masalah lebih ke arah Fungsi ataupun kinerjanya. Biasanya sebelum organ sakit, tubuh sudah mengalami gangguan terlebih dahulu. Contohnya, ketika terlalu capek bekerja, menyetir, dll maka yang akan terasa pegal duluan adalah area pundak dan leher. Umumnya kita menganggap sepele dan membiarkannya dengan beranggapan nanti setelah istirahat akan membaik dengan sendirinya. Tetapi jika sudah sampai dipuncak masa jenuhnya, maka area pundak yang tadinya kita anggap biasa tidak akan bisa sembuh dengan sendirinya lagi.

Sama juga dengan area tubuh. karena tubuh tidak bergerak seperti pundak, leher, tangan sehingga sangat sulit merasakannya adanya pegal, sakit tanpa dilakukan penekanan/perabaan pada area tersebut. Tanpa sadar lama kelamaan sudah menjadi semakin berat dan sudah masuk ke organnya.

Area yang selayaknya diperiksa :

  • Abdomen

 

  • Leher

 

Ketika pemeriksaan lengkap dan dilakukan terapi untuk area tubuh tersebut, hal ini akan mempercepat proses penyembuhan yang selama ini sangat sulit sekali disembuhkan.

 

Leave a Reply